~*( SYAIR BERDARAH )*~
Berjalan jauh menelusuri lorong –
lorong kegelisahan
Antara suka dan duka
Sepertinya, ku tak pernah bosan pada
rupa dan kebingungan
Yang kerap kali menghujam dan
menampar – nampar jiwa
Karena aku sadar bahwa kegelisahan
dan kebingungan
Adalah awal dari bencana
Yang akan menghancurkan cinta dan
cita – citaku
Seperti pada ssat kali ini, tajamkan
hasratku menemuimu
Air mata, keringat dan jerit hati,
semua mengharu biru
Memandikan tubuhku dalam lumuran
darah dan bau anyir menjijikkan
Tapi, aku hadir untuk mencintaimu
Dalam harap dan cemas yang
terperihkan
Kuketuk pintu kesadaranmu
Kau tersenyum manja buaikan mimpi –
mimpi memelukmu
Kasih, pintu menderit tanpa salam
Apakah kau tak mendengar resah –
keresahanku
Saat aku berdialog dengan seribu
bahasa dan dalih getir yang menyesakkan
Sementara bahasa – bahasa itu adalah
kerinduan
Yang hendak aku ungkapkan padamu
Tapi, sia….sia….
Wahai jiwa yang agung
Engkaulah yang menciptakan naluriku
mencintaimu
Lantas rupa kekejaman bagaimana lagi
Yang henddak aku ungkapkan dengan
kata – kata
Sementara tulang, sum – sum dan urat
nadi
Saat ini telah menjelma menjadi
mayat
Diantara dua lubang kuburan
Diatas tarian derita
Wahai rembulan yang redup diamalam
tak berbintang
Catatlah seberapa besar cinta yang
aku korbankan
Dan seberapa besar pula, kesetiaan
yang telah aku berikan
Sehingga dengan rasa tega
Kau hancurkan cinta kasihku,
Sebagai tumbal dari keegoisan diri
Hanya semata – mata buaian manis
janji dirinya
Rovita Rizha
Tidak ada komentar:
Posting Komentar