Rabu, 01 Juli 2015



~*( SYAIR BERDARAH )*~

            Berjalan jauh menelusuri lorong – lorong kegelisahan
            Antara suka dan duka
            Sepertinya, ku tak pernah bosan pada rupa dan kebingungan
            Yang kerap kali menghujam dan menampar – nampar jiwa
            Karena aku sadar bahwa kegelisahan dan kebingungan
Adalah awal dari bencana
Yang akan menghancurkan cinta dan cita – citaku

Seperti pada ssat kali ini, tajamkan hasratku menemuimu
Air mata, keringat dan jerit hati, semua mengharu biru
Memandikan tubuhku dalam lumuran darah dan bau anyir menjijikkan
Tapi, aku hadir untuk mencintaimu
Dalam harap dan cemas yang terperihkan
Kuketuk pintu kesadaranmu
Kau tersenyum manja buaikan mimpi – mimpi memelukmu

Kasih, pintu menderit tanpa salam
Apakah kau tak mendengar resah – keresahanku
Saat aku berdialog dengan seribu bahasa dan dalih getir yang menyesakkan
Sementara bahasa – bahasa itu adalah kerinduan
Yang hendak aku ungkapkan padamu
Tapi, sia….sia….

Wahai jiwa yang agung
Engkaulah yang menciptakan naluriku mencintaimu
Lantas rupa kekejaman bagaimana lagi
Yang henddak aku ungkapkan dengan kata – kata
Sementara tulang, sum – sum dan urat nadi
Saat ini telah menjelma menjadi mayat
Diantara dua lubang kuburan
Diatas tarian derita

Wahai rembulan yang redup diamalam tak berbintang
Catatlah seberapa besar cinta yang aku korbankan
Dan seberapa besar pula, kesetiaan yang telah aku berikan
Sehingga dengan rasa tega
Kau hancurkan cinta kasihku,
Sebagai tumbal dari keegoisan diri
Hanya semata – mata buaian manis janji dirinya


Rovita Rizha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar